Politik Pencitraan Mendekati Kemunafikan

Anda tentu sudah mengetahui politik pencitraan itu baik yang dibangun melalui kampanye positif yang dibangun oleh sang calon untuk meningkatkan popularitasnya maupun kampanye negatif yang dibangun untuk menjatuhkan lawan sang calon. Untuk itu tulisan ini hanya untuk mengingatkan kita semua semua bahwa politik pencitraan tersebut mendekati kemunafikan. 


Politik pencitraan mulai menggeliat saat kita mengenal pemilihan langsung oleh masyarakat. Presiden, Gubernur dan Bupati Walikota langsung dipilih oleh masyarakat yang sebelumnya dipilih oleh DPR/DPRD. Perubahan ini tentu membuat figur calon sangat menentukan dalam kemenangan sehingga memuncul politik pencitraan sehingga figur calon menjadi lebih dikenal oleh masyarakat. Media, Iklan, baliho slogan, visi misi normatif dibangun untuk memperkuat politik pencitraan sang calon sehingga layak jual di masyarakat. 

Munafik sendiri menurut kamus Bahasa Indonesia adalah berpura-pura percaya atau setia dsb kpd agama dsb, tetapi sebenarnya dl hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yg tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. Untuk dapat diringkas bahwa munafik itu adalah orang suka berbohong, agama apapun baik Islam, Protestan, Khatolik, Hindu, Budha maupun Konghucu melarang kita untuk bersikap munafik. Anda pun sudah dapat pula membayangkan seperti apa jika seorang pemimpin mempunyai sifat munafik? Dan seperti apa ciri-ciri orang munafik Andapun tentu tahu. Anda pun tentu tidak ingin dipimpin oleh orang yang munafik. Ucapan, dan tindakannya penuh kepalsuan dan tidak ada yang dapat dipercaya. Mungkin lagu munafik dari GIGI bisa mengingatkan kita, dan hal ini pula yang menyebabkan kenapa kita lebih konsen terhadap kontrak politik dari pada janji politik. 

Sebagaimana telah Anda baca diatas bahwa politik pencitraan dibangun bisa melalui kampanye positif (Kampanye putih )ataupun kampanye negatif (kampanye hitam). Jika kampanye hitam tentu Anda sepakat bahwa hal ini jelas dilakukan oleh orang-orang yang munafik dan penuh kebohongan, karena informasi yang dikembangkan adalah kejelekan, kekurangan seseorang yang dekat dengan fitnah dan belum jelas tentang kebenarannya. 

Sedangkan kampanye positif atau citra positif yang dibangun untuk meningkatkan popularitas sang calon, apakah dapat dikatakan kampanye positif juga dekat dengan kemunafikan? Untuk hal ini jawabannya tentu dekat dan tidak dekat . Dekat dengan kemunafikan jika citra positif itu dibangun atas dasar kebohongan, dimana citra positif dibangun secara berlebih-lebihan dan tidak menggambarkan jati diri sebenarnya calon pemimpin tersebut. Membuat janji-janji politik yang tidak direalisasikan, membuat visi misi yang dia sendiri belum dapat membayangkan seperti apa ujungnya. Berbuat atau berperilaku yang bertujuan untuk menarik simpat masyarakat padahal aslinya tidak demikian dan bahkan saat setelah terpilih perilaku positif untuk menarik simpati tadi malah ditinggalkan. Kalau boleh kita ambil contoh seperti prilaku dermawan yang mendadak, Perilaku mendadak ramah dengan masyarakat dan banyak lagi yang dapat Anda amati, termasuk kondisi calon pemimpin yang seakan-akan dia teraniaya padahal kondisi itu memang diciptakan sendiri.. 

Sedangkan kampanye positif yang tidak dekat dengan kemunafikan adalah politik pencitraan yang dibangun atas dasar kewajaran dan sesuai dengan jati diri calon pemimpin tersebut. Bagaimana perilakunya sehari-sehari demikianlah hal tersebut ditampilkan. Misalkan sehari-harinya memang suka berderma dan ketika menjelang pemilihan dia dikampanyekan dermawan, biasanya suka blusukan dan dekat dengan masyarakat dan ketika kampanye dia blusukan dan dekat masyarakat tentu kita memandang ini sebagai sebuah hal yang wajar. 

Dan mudah-mudahan Anda juga sepakat bahwa kampanye positif yang satu ini bisa kita katakan tidak dekat dengan kemunafikan walaupun perbuatan, ucapannya tidak mencerminkan perbuatannya selama ini. Namun sang calon mempunyai niat untuk memperbaikinya dan merubahnya sehingga perbuatannya selama masa kampanye tersebut memang tersu dijalankannya selama masa dia terpilih sebagai pemimpin. Kita contohkan seorang calon pemimpin yang selama ini tidak dekat dengan masyarakat, menjelang mau kampanye atau dekat dengan pemilihan mendadak sang calon menyapa masyarakat kepasar, ke kawasan kumuh namun setelah dia terpilih perbuatannya ini tetap diteruskannya selama dia menjabat setelah terpilih. 

Dari hal diatas dapat kita simpulkan dan mudah-mudahan Anda juga sepakat bahwa Politik Pencitraan sangat dekat dengan kemunafikan sehingga sudah saatnya dihindari terutama menjelang Pemilu 2014 dan Pilpres 2014. Akan tetap bukan berarti politik pencitraan dihilangkan karena masih ada poin positifnya dan boleh dikatakan tidak dekat dengan kemunafikan. Namun hal ini perlu dijaga jangan sampai kita dikecewakan sehingga perlu adanya kontrak politik tidak sekedar janji politik demi terwujudnya Indonesia baru dengan berubah dan bangkit.

Bagaimana menurut anda setujukah Anda dengan tulisan ini, jika ada hal yang kurang atau lebih silakan disampaikan karena hal ini untuk kepentingan bersama agar masyarakat menjadi lebih terbuka dalam menatap Pemilu dan Pilpres 2014 tidak terbawa oleh politik pencitraan yang dikondisikan oleh sekelompok golongan tanpa memandang kepentingan dan kemaslahatan umum.

[sumber foto : Lentera Kehidupan dan Ini Unic]
Share on Google Plus

About Eva Asnidah Purba

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Indonesia BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah. contact : Sosmed Indonesia afdoli
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :