Headlines News :

Posting Terbaru

Cara Mudah Mengatasi (Membayar) Hutang Luar Negri

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul 3500 T Hutang Negeriku Hutang Anak Bangsa ada respon dari pembaca yang menyebutkan mudah untuk mengatasi hutang tersebut. boleh juga tuch idenya. Memang kenaikan hutang Indonesia cukup drastis dimana Hutang Indonesia Meningkat 1.124 Trilyun dalam 11 Bulan. Dan kenaikan hutangini bukan karena kita dapat uang segar sebagai justeru sebagian besar karena melemahnya nilai mata uang rupiah kita. 
Cara Mudah Mengatasi (Membayar) Hutang Luar Negri. Cara Indonesia bangkit

Beban Hutang yang semakin mencekik leher bangsa Indonesia. Hal ini tentu dapat menghapus paradigma kita bahwa Hutang efektif untuk meningkatkan pembangunan. Dimana justeru pendapatan negara hasil pembangunan justeru untuk membayar bunga pinjaman plus kurs mata uang yang semakin melemah. Disamping hal itu paradigma Hutang Luar Negeri efektif untuk memacu pembangunan, pendapatan nasional, kesejahteraan nasional juga tidak tepat bila dilihat dari penggunaan Hutang tersebut. Demikian juga penyalahgunaan (potensi korupsi baru) pengelolaan hutang baik mulai dari peminjaman hingga penggunaan pinjaman justeru membuat hutang menjadi tidak efektif dalam membangkitkan Indonesia. Mudah-mudahan dalam tulisan selanjutnya ini dapat dipaparkan cara indonesia bangkit. 

Dalam kesempatan ini Cara Indonesia bangkit coba memaparkan masukan yang bagus dari pembaca yaitu Sdr. Hatta Alqodri dan Archita twins dalam tulisan 3500 T Hutang Negeriku Hutang Anak Bangsa terkait dengan cara mengatasi hutang tersebut. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas pandangan kedua saudara tersebut. Dengan ulasan sederhana , kami akan mengulas masing-masing item masukan tersebut melalui tulisan selanjutnya. Adapun masukan Cara Mudah Mengatasi (Membayar) Hutang Luar Negeri tersebut adalah sebagai berikut : 

  1. Yakin Allah akan membantu 
  2. Membuat great wall economies 
  3. Kelola emas hitam dengan sebaik mungkin 
  4. Kurangi dominasi negara lain mengelola Sumber Daya Alam 
  5. Bersihkan tindak korupsi 
  6. Bikin emas sendiri jangan Cuma andalkan hasil tambang. 
Dari enam masukan ini, nomor satu sudah jelas sebagai negara yang berasas Ketuhanan Yang Maha Esa wajib mengimaninya. Walaupun negeri ini sendiri bimbang ada dalam posisi mana antara sekuler dan agama, padahal sudah jelas Pancasila dan negara ini berada ditengah negara agama dan sekuler. 

Sedangkan masukan nomor enam, masih membayangkan dulu sambil garuk kepala.Asal jangan sampai pusing aja ya.. hehe jadi.. senyum-senyum aja.. bener juga masukannya.. Cuma gak tahu nyambung apa gak.. dengan yang memberi masukan. Memang SDM juga perlu di samping SDA.  Ok, Insya Allah akan juga dipaparkan setelah membahas masukan nomor dua hingga lima. Kelamaan ya.. maklum disini onlinenya agak terbatas. Tetap berusaha memanfaatkan yang ada. Terima kasih atas masukannya semoga sukses selalu.

Hebat Hutang Indonesia Meningkat 1.124 Trilyun dalam 11 Bulan

Dalam tulisan 3500 Trilyun Hutang Negeriku Hutang Anak Bangsa dijelaskan bahwa dalam tahun 2013 ada perubahan hutang Indonesia yang cukup signifikan. Tentunya hal ini menjadi kekhawatiran dan keterkejutan bagi anak bangsa. Dimana pada awal tahun 2013 hutang negeri ini sudah menembus 2.000 Trilyun rupiah. Dan ternyata kejutan tersebut tidak berhenti disini. 

Sesuai buku statistik hutang luar negeri Indonesia yang dikeluarkan Bank Indonesia pada bulan januari 2014 menyampaikan laporan bahwa di bulan November 2013 Hutang LN Indonesia telah mencapai angka 3.124 Trilyun rupiah. Hal ini berarti ada penambahan Hutang sekitar 1.124 Trilyun rupiah dalam tempo hanya 11 bulan. 

Sebuah angka yang fantantis dan Hebat Hutang Indonesia Meningkat 1.124 Trilyun dalam 11 Bulan. Sebuah rekor peningkatan hutang yang perlu mendapatkan penghargaan. Ini menjadi semakin miris karena perubahan hutang ini tidak murni karena kita mendapat kucuran dana segar. Peningkatan sebagian hutang justeru dipicu oleh kenaikan kurs Dollar Amerika terhadap rupiah yang pada penghujung tahun 2013 mencapai level Rp.12.000,- perdollar. Dimana kita ketahui sebagian besar hutang kita dalam bentuk Dollar Amerika. 
Hebat Hutang Indonesia Meningkat 1.124 Trilyun dalam 11 Bulan. Cara Indonesia Bangkit

Inilah jebakan hutang Luar Negeri yang semakin mencekik leher bangsa indonesia. Kita menganggap hutang dapat menyelesaikan masalah, justeru ini akan menjadi sumber masalah baru dikemudian hari. Potensi korupsi juga semakin tinggi jika semakin tergantung pada hutang. Padahal jika hitung-hitung kenaikan hutang sebesar 1.124 trilyun ini dapat membiayai seluruh propinsi dan kabupaten/kota di Indonesia selama 3 tahun plus bonus bantu buat korban bencana alam di Indonesia 

Gak percaya nich...Coba kita hitung ya.. kita ambil DAU Propinsi Kabupaten Kota Tahun 2013 sesuai Perpres No 10 Tahun 2013 tentang Dana Alokasi Umum (DAU) Provinsi Kabupaten Kota Tahun 2013 bahwa 
  1. 33 propinsi mendapatkan DAU sebesar 31,113 Trilyun 
  2. 491 Kabupaten Kota mendapatkan DAU sebesar 280,025 Trilyun 
Sehingga Total propinsi kabupaten kota mendapatkan DAU sebesar 311,319 Trilyun

Jika kita asumsikan setiap tahun propinsi mendapatkan jatah DAU sebesar 311, 319 trilyun maka selama 3 tahun hanya butuh 933,957 Trilyun rupiah. 

Dengan uang sebesar 1.124 Trilyun mampu membiayai Daerah Provinsi Kabupaten Kota selama 3 tahun dan masih sisa 190,43 trilyun (1.124-933,957). Jika pembuatan waduk di bogor untuk mengatasi banjir Jakarta berbiaya 1,9 trilyun dan bantuan pengungsi sinabung sebesar 1 trilyun, dengan dana 190 trilyun tentu bisa buat macam-macam. Termasuk membiayai saksi pemilu di TPS (jika sepakat...?) 

Memang fenomena hutang luar negeri bukan saja tidak efektif dalam pengelolaan hutangnya sendiri, bahkan kita menjadi tidak belajar bagaimana mengelola anggaran yang ada agar tidak boros dan bagaimana meningkatkan pendapatan nasional. Demikian juga hutang Luar Negeri dapat menjadi jebakan hutang jika tidak ada niat kita untuk mengurangi atau melunasinya. Kita dapat membayar dengan cara mudah membayar hutang negara asal kita memang mau. Mudah-mudahan presiden mendapat dapat memberikan perhatian pada hutang Luar negeri ini untuk Indonesia.

3500 T Hutang Negeriku Hutang Anak Bangsa

Pada awal Tahun 2013 lalu jumlah hutang Indonesia telah menembus level 2.000 Trilyun. Dan sesuai Buku Hutang dari data BI bahwa pada akhir November tahun 2013 hutang Indonesia mencapai 260,335 Juta DollarAS atau dengan kurs Rp. 12.000 maka setara dengan Rp. 3.124,02 Trilyun. Hutang-hutang ini juga akan bertambah besar mengingat defisit APBN 2014 yang mencapai Rp 224,2 triliun. Oleh karena itu tidak berlebihan jika tahun 2014 ini diperkirakan hutang Indonesia akan menembus level 3.500 Trilyun Rupiah. 

Dalam Buku Statistik dinyatakan bahwa Utang luar negeri didefinisikan sebagai utang penduduk (resident) yang berdomisili di suatu wilayah teritori ekonomi kepada bukan penduduk (non resident). Konsep dan terminologi utang luar negeri ini mengacu pada IMF’s External Debt Statistics: Guide for compilers and Users (2003). Untuk itu dapat diarikan bahwa hutang Indonesia adalah hutang rakyat Indonesia sehingga kita beri judul Hutang negeriku hutang anak bangsa. 
3500 T Hutang negeriku hutang anak bangsa Cara Indonesia bangkit

Oleh karena Jika ini yang terjadi, maka dengan jumlah penduduk sebanyak lebih kurang 240 juta jiwa, maka hutang masing-masing anak bangsa Indonesia menanggung hutang sebesar lebih dari Rp. 14.385.000,-. Bahkan tidak salah jika ada pendapat yang menyatakan bahwa setiap bayi yang lahir sudah menanggung beban hutang 13 juta rupiah. 

Dapat di sampaikan bahwa hutang tersebut adalah akumulasi dari hutang yang terdiri dari 3 kelompok yaitu pemerintah, Bank Indonesia dan swasta. Hutang tersebut juga diperoleh dari 21 negara/kelompok negara dengan 4 negara pemberi pinjaman terbesar adalah Singapura, Amerika Serikat, Jepang dan Belanda. Sedangkan 3 bentuk mata uang pinjaman terbesar dalam bentuk US$, Yen Jepang, Rupiah. Sedangkan 3 Organisasi internasional pemberi pinjaman terbesar adalah IBRD, ADB dan IMF. Dimana 82% pinjaman tersebut adalah pinjaman jangka panjang sedangkan 18%nya pinjaman jangka pendek di bawah 1 Tahun. 

Masih Amankah Hutang Indonesia ? Sumber dari BI dan Kementerian Keuangan menyatakan bahwa hutang Indonesia masih dalam posisi aman, berada dibawah 40% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara tentangga lainnya seperti Malaysia dimana pinjaman mencapai 47% dari PDBnya. Namun dengan penggunaan tolok ukur ini menurut Cara Indonesia Bangkit kurang tepat dan tidak sepenuhnya dapat diterima karena perekonomian Indonesia masih didominasi oleh luar negeri. Berbeda halnya dengan Malaysia yang lebih memberikan porsi dan proteksi pada pengusaha lokal dalam mengelola perekonomian negaranya. 

Bahkan jika tolok ukurnya kita ganti dengan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) 2012 yang dirilis BPS sekitar 32 Juta Rupiah/perkapita atas harga berlaku dan 10 Juta Rupiah/kapita atas harga konstan tahun 2000 tidak menggambarkan itu kondisi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Dimana menurut Sofyan Wanadi Ketua Apindo pada acara Indonesia Investor Forum 3 yang dimuat okezone.com bahwa 100 Juta masyarakat Indonesia berpenghasilan dibawah 24 ribu rupiah/hari dan 30 juta diantara berpenghasilan dibawah 12 ribu rupiah/hari. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan kondisi riil masyarakat yang ada disekitar kita yang kian hari semakin memperbesar jurang antara miskin dan kaya. 

Terlepas dari aman atau tidak amannya hutang Indonesia. Bahwa dengan besarnya ketergantungan APBN pada hutang Luar negeri akan memberikan dampak kurang baik yaitu antara lain : 

  1. Rendahnya Psikologis atau kepercayaan diri bangsa terhadap negara pemberi pinjaman. 
  2. Memperbesar biaya keluar untuk hal yang tidak produktif baik melalui pembayaran bunga pinjaman maupun peluang aliran korupsi. 
  3. Kurang memberikan pelajaran untuk lebih efektif dan efsien dalam mengelola anggaran 
  4. Kurang memacu semangat untuk memaksimalkan penerimaan dan pemasukan negara. 
  5. Utang baru akan menimbulkan biaya ekonomi baru yang tentunya menjadi beban baru. 

Masa Depan Hutang Indonesia. Ditahun 2014 yang kita sebut sebagai tahun politik, gaung hutang sepertinya jauh dari pembicaraaan. Jika hal ini tidak menjadi janji atau kontrak politik oleh para capres bukan tidak mungkin hutang Indonesia akan semakin menggunung. Padahal jika ada Capres yang berani menyatakan untuk mengurangi Hutang Negara, maka dapat diyakini bahwa dia adalah sosok orang yang mampu mensyukuri potensi yang dimiliki negara ini sehingga akan mendorong pemerintahan yang dipimpinnya untuk memaksimalkan pendapatan negara sekaligus mengelola anggaran dengan efektif dan efisien. Semoga ada tokoh Capres yang berani melakukan hal ini sebelum akhirnya negara ini terpaksa melakukan shutdown seperti yang dilakukan Obama di Amerika. Jika saat ini dimulai tentu cukup dengan restart pada poin-poin tertentu untuk membangkit Indonesia tercinta.

Indonesia ditengah Negara Agama dan Sekuler

Untuk melihat posisi indonesia dalam negara hukum di duni, kita dapat melihat hasil penelitian Muhammad Tahir Azhary seorang Guru Besar Fakultas Hukum UI yang menemukan lima macam konsep negara hukum. Sehingga Cara Indonesia bangkit memandang konsep ini sesuai dengan judul tulisan Pancasila titik temu Negara Agama dengan Negara sekuler, penulis membagi negara di dunia menjadi tiga kelompok yaitu sebagai berikut : 

  1. Negara kiri yaitu negara-negara yang menganut sekulerisme. Negara-negara berfaham sekuler ini memisahkan kehidupan agama dengan negara. Adapun faham dalam sekulerisme terbagi dua yaitu yang pertama liberalism dengan pluralis, neolib dan lainnya, kedua adalah komunisme dengan paham sosialisme. Paham liberal merupakan paham yang berkembang di negara-negara barat seperti eropah dan amerika. Sedangkan paham sosialis adalah paham di lakukan oleh negara-negara komunis seperti China, Korea Utara, termasuk Uni Sovyet yang telah bubar di awal tahun 90an. 
  2. Negara kanan yaitu negara-negara yang menjadikan agama sebagai dasar hukumnya. Negara ini mengekrucut pada negara Islam. Yaitu Negara-negara yang menjadikan Alquran dan sunnah sebagai sumber hukumnya. Dimana ajaran Islam merupakan ajaran tauhid yang mengatur tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, namun juga mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya. Negara ini disebut para ilmuwan sebagai negara nomokrasi. 
  3. Negara Tengah yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila.yaitu negara yang menjadikan pancasila sebagai penengah antara Agama dengan sekuler. Sila-sila dalam Pancasila merupakan perpaduan untuk menngakomodir paham agama dengan sekuler. Sehingga Indonesia sering juga disebut sebagai negara beragama.
Dari hal ini dapat dipahami bahwa Indonesia adalah negara tengah. Namun muncul pertanyaan apakah  benar negara Indonesia ditengah negara Agama dan Negara sekuler ? mari Kita tanya pada diri sendiri..

Lima Macam Konsep Negara Hukum di dunia

Muhammad Tahir Azhary seorang Guru Besar Fakultas Hukum UI dalam bukunya Negara hukum, melalui penelitiannya menemukan lima macam konsep negara hukum yaitu sebagai berikut :

1. Negara hukum menurut Qur’an dan Sunnah yang disebut sebagai nomokrasi yang dipinjam dari istilah yang dikemukakan oleh Malcolm H. Kerr dalam Islamic Reform dan Majid Khadduri dalam War and peace in the law of Islam. dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Bersumber dari Alqur’an, sunnah dan ra’yu nomokrasi 
  2. bukan teokrasi 
  3. persaudaraan dan humanism teosentrik 
  4. kebebasan dalam arti positif 
2. Negara hukum menurut konsep eropa continental yang dinamakan rechtsstat. Model negara hukum yang diterapkan misalnya di Belanda, Jerman dan Perancis.  dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Bersumber dari rasio manusia 
  2. Liberalistic/individualistic 
  3. Humanism yang antroposentrik (lebih dipusatkan pada manusia) 
  4. Pemisahan antara agama dan negara secara mutlak 
  5. Ateisme dimungkinkan 
3. Konsep rule of law yang diterapkan di negara-negara anglo saxon, antara lain Inggris, dan Amerika serikat. dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Bersumber dari rasio manusia 
  2. Liberalistic/individualistic 
  3. Humanism yang antroposentrik (lebih dipusatkan pada manusia) 
  4. Pemisahan antara agama dan negara secara mutlak 
  5. Freedom of religion dalam arti positif dan negative 
  6. Ateisme dimungkinkan 
4. Konsep negara hukum sosialis yang diterapkan pada negara-negara komunis seperti uni soviet dengan Ciri-ciri sebagai berikut

  1. Bersumber dari rasio manusia 
  2. Komunis 
  3. Ateis 
  4. Totaliter 
  5. Kebebasan beragama yang semu 
  6. Kebebasan propaganda anti agama 
5. Konsep Negara Hukum Pancasila dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Hubungan yang erat antara agama dan negara 
  2. Bertumpu pada Ketuhanan Yang Maha Esa 
  3. Kebebasan beragama dalam arti positif 
  4. Ateisme dan komunisme dilarang 
  5. Asas kekeluargaan dan kerukunan 
Lima Macam Konsep Negara Hukum di dunia

Secara garis besar Negara-negara di dunia mengerucut pada empat bentuk negara di atas. Sedangkan negara hukum pancasila hanya ada di Indonesia. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa Indonesia berada ditengah-tengah bentuk negara yang ada di dunia. Sehingga Indonesia dengan pancasila berada ditengah-tengah negara didunia dimana cara Indonesia bangkit membagi Negara-negara di dunia menjadi 3 kelompok melalui tulisan Indonesia ditengah negara Agama dan sekuler. Untuk itu Indonesia harus dapat lebih bijak untuk menempatkan posisinya tetap sebagai negara tengah dengan Pancasila sebagai Pancasila titik temu Negara Agama dengan Negara sekuler

sumber : Muhammad Tahir Azhary dalam buknya Negara hukum, Prenada Media, Jakarta; hal 83-102

Pancasila titik temu Negara Agama dengan Negara sekuler

Pada tulisan sebelumnya bagaimana paham pluralisme telah menginfeksi semboyan bhinneka Tunggal Ika. Paham pluralisme ini juga bukan satu-satunya paham yang berusaha masuk dan dimasukkan untuk menggantikan peran Pancasila sebagai dasar negara. Masih ada paham-paham yang lain yang dinjeksikan untuk menggoyang pancasila. Kita sebut saja liberalisme, atheis, HAM dan Demokrasi merupakan paham negara sekuler yang cukup menggoda pemikir negeri ini dan dibungkus secara apik hingga dapat berkembang pesat di era reformasi ini. 

Bahkan Paham sosialisme atau komunisme yang juga termasuk paham sekuler juga ikut mendapat tempat dalam era reformasi ini. Dilihat dari sejarah, Indonesia punya kenangan buruk dengan komunisme di tahun 1948 dan 1965. Negara-negara pengusung sosialisme seperti Uni Sovyet bubar di Tahun 1991. Ternyata hal ini kurang memberikan pelajaran bagi bangsa ini tentang bahayanya paham ini terhadap dasar negara Indonesia. 
Pancasila titik temu Negara Agama dengan Negara sekuler

Untuk perlu kita melihat peta negara-negara di dunia. Muhammad Tahir Azhary seorang Guru Besar Fakultas Hukum UI membagi negara dalam lima golongan yaitu negara agama, negara rechstaats, Negara Rule of the Law, Negara Sosialis dan Negara Pancasila. Dan Cara Indonesia Bangkit membagi negara menjadi 3 golongan yaitu kelompok kiri (Negara Sekuler), kelompok kanan (Negara Agama) dan negara tengah (Indonesia) 

Dari pembagian negara tersebut dapat terlihat bahwa Indonesia berada ditengah-tengah antara negara Agama dan sekuler di dunia. Mengingat posisi Indonesia yang berada di tengah-tengah tersebut tentunya riskan dan rawan dipengaruhi oleh kelompok kiri maupun kelompok kanan. Posisi tengah ini juga yang kadang kala tidak dapat dimaknai sepenuhnya oleh pemegang amanah. Demikian juga kita seringkali memandang rumput tetangga lebih hijau, sehingga kurang percaya diri dengan yang dimiliki. 

Kelompok kiri melalui paham sosialisme yakni komunis mewarnai kehidupan Indonesia pada orde lama. Dan Kelompok kiri melalui paham pluralisme, liberalisme mulai mepengaruhi di orde baru dan berkembang di era reformasi. Paham liberalisme dengan hal, pluralisme berkembang cukup pesat di era rfeormasi sebagai jawaban atas kebencian terhadap rezim orde baru. Dari hal ini dapat dipahami bagaimana faham sekuler terus menggerus nilai-nilai dalam pancasila. Jika pada orde lama di goyang sekuler dengan wajah komunisme, maka di era reformasi iIndonesia tetap digoyang seklur dengan wajah liberalisme. 

Sedangkan kelompok kanan terus mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Tidak dapat kita pungkiri kelopok agama terus mewarnai Bangsa Indonesia. Perjuangan melawan penjajah, perjuangan kemerdekaan tidak dapat dilepaskan dari perjuangan kelompok agama. Demikian juga hingga peletakan dasar-dasar negara Indonesia tidak luput dari peran serta tokoh-tokoh agama. 

Oleh karena itu tidak heran jika pada masa kepemimpin Soekarno pada Orde Lama menggandengnya dengan paham NASAKOM (NASionalis Agama Komunis). Namun pada Orde baru Kelompok ini digandeng untuk melanggengkan kekuasaan seperti halnya pancasila juga digunakan untuk memperkuat kekuasaan dan jika kelompok ini ada yang bersebrangan maka terjadilah pemberantasan. Dan di era reformasi kelompok agama berkembang dengan sendirinya akibat dikebiri pada zaman sebelumnya. Kelompok ini semakin berkembang sebagai jawaban berkembangnya paham liberalism. 

Dari bahasan diatas dapat tergambar dimana dan bagaimana posisi pancasila dan Indonesia ditengah ideologi, hukum dan negara yang ada di dunia. Sehingga ini menjadi catatan kita bersama menuju kehidupan kebangsaan selanjutnya. Demikian juga sebagai catatan bagi capres 2014 yang dapat dijadikan sebagai peta untuk memimpin negeri ini. Akan kita kita masih bangga dengan jati diri bangsa sendiri sebagaimana yang telah disepakati oleh pendiri bangsa ? atau apakah kita akan terpengaruh dengan paham sekuler yang semakin berkembang hingga akhirnya kita dapat berganti baju? 

Apapun jawaban Anda, itulah yang akan menentukan arah kehidupan bangsa Indonesia kedepan. Sebagai tambahan Anda untuk berpikir dan merenungkan masa depan Indonesia, berikut Cara Indonesia Bangkit mencatat kemungkinan lima paham sekuler sebagai pengganti Pancasila yaitu sebagai berikut : 
  1. Atheisme sebagai pengganti Sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa 
  2. Hak Azasi Manusia sebagai pengganti Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab 
  3. Pluralisme sebagai pengganti Sila Ketiga Persatuan Indonesia 
  4. Demokrasi sebagai pengganti sila keempat Kerakyatan yang dipimpin oleh khikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 
  5. Liberalis dan neolib sebagai pengganti Sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 
Memang harus kita akui keberadaan Pancasila semakin jauh dari kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Pancasila memang masih dasar negara Indonesia namun nilai-nilai yang ditanamkan sudah paham sekuler. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi sejarah kemana bangsa ini akan dibawa. Akankan Pancasila tetap menjadi pandangan hidup bangsa ini atau memang rumput tetangga lebih hijau hingga Pancasila dapat tergantikan.

Memasyarakatkan Bhineka Tunggal Ika, menghapus Pluralisme

Memasyarakatkan Bhineka Tunggal Ika, menghapus Pluralisme demi keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa 
Memasyarakatkan Bhineka Tunggal Ika, menghapus Pluralisme

Sejak jatuhnya orde baru pada tahun 1998, kita memasuki era baru yang kita sebut reformasi. Dalam era ini negeri seperti terbuai dengan aroma kebebasan yang kebablasan. Atas nama hak azasi manusia (HAM) menjadi alasan untuk mendzalimi hak azasi orang lain. Atas nama demokrasi menjadi alasan untuk merusak kedaulatan rakyat. Atas nama pluralisme justeru merusak Bhineka tunggal ika pancasila. 

Pluralisme menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya). sedangkan bhineka tunggal ika terdiri tiga kata sebagai satu kesatuan, yaitu bhineka (beranekaragam, majemuk atau berbeda-beda), tunggal (satu) dan Ika (itu). Diterjemahkan Bihineka tunggal ika secara satu kesatuan berarti berbeda-beda tapi satu, beraneka ragama namun satu juga atau kemajemukan yang dipersatukan. Sehingga secara bahasa Pluralisme hanya mewakili satu kata yakni Bhineka dengan mengabaikan Tunggal Ika. 

Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang. Beranekaragam suku, agama, ras, antar golongan namun satu dalam tanah air, bangsa dan bahasa. Semboyan bhineka tunggal ika terletak dalam pita dalam cengkeraman burung garuda dengan perisai pancasila. Hal ini bermakna bahwa Pancasila berdiri untuk mempersatukan kemajemukan, perbedaan dan keragaman yang ada dalam masyarakat Indonesia untuk tetap berjalan bersama dengan penuh kerukunan. 

Sedangkan pluralisme adalah paham kemajemukan, perbedaan-perbedaan. Dari segi kata pluralisme termasuk ambigu (wikipedia). Namun penganut dalam sosial mengartikannya sebagai sebuah kerangka interaksi beberapa kelompok yang menunjukan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Pluralisme merupakan paham yang diambil dari paham yang dikembangkan dibarat. 

Dalam perjalanannya paham pluralisme membiarkan masing-masing perbedaan untuk saling bersaing hingga muncul pemenang. Sehingga tidak heran jika sering kali meninggalkan salah satu unsur kemajemukan yang ada. Kita dapat melihat bagaimana tersisihnya suku asli suatu daerah seperti suku indian di amerika, suku aborigin di australia. Begitu juga di Indonesia, hal ini sudah mulai kita rasakan bagaimana isu sukuisme dan kedaerahan berkembang di era reformasi begitu mengemuka. Jika hal ini terus kita biarkan akan terus terjadi pertarungan antar unsur tersebut. 

Oleh karena itu Bhineka Tunggal Ika adalah harga yang tidak dapat ditawar lagi untuk NKRI. Namun yang menjadi catatan jangan sampai kita mengulangi sejarah orde lama dan orde baru dalam melaksanakan bhineka tunggal ika untuk kelanggengan kekuasaan yang akhirnya membentuk karaktek rezim otoriter. Tugas kita untuk membentuk kesepakatan bersama tentang titik tengah diantara kemajemukan masyarakat Indonesia. Tugas para akademisi, peneliti untuk mencari titik temu ini sebagai dasar berjalannya kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat di tanah air indonesia. Untuk itu cara Indonesia Bangkit mengajak kita masyarakat Indonesia secara keseluruhan untuk Memasyarakatkan Bhineka Tunggal Ika, menghapus Pluralisme demi keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

kritik terhadap 6 indikator survey tokoh pluralis Indonesia 2013

ada penghujung Tahun 2013, Lembaga Pemilih Indonesia mengeluarkan liris tokoh dan capres pluralis 2013. Hasil rilisnya telah cara Indonesia bangkit posting dalam tulisan 6 tokoh pluralis, tokoh senior dan junior yang tidak pluralis Indonesia 2013. Jika dalam tulisan ketidakpluralisan survey survey tokoh pluralis Indonesia, cara Indonesia Bangkit mengkritik secara umum. Maka pada kesempatan ini, cara Indonesia bangkit khusus memberikan ulasan sebagai kritik terhadap 6 indikator survey tokoh pluralis Indonesia 2013 
kritik terhadap 6 indikator survey tokoh pluralis Indonesia

Dari hasil penelusuran lebih lanjut terhadap survey tokoh pluralis yang dilakukan LPI didapatkan hasil liris ternyata ada 18 tokoh senior dan 12 tokoh junior yang dianggap punya kans sebagai capres 2014 sesuai tingkat pluralisnya. Namun para media online memutarnya sesuai dari tujuan pemberitaannya, sehingga mempengaruhi tulisan 6 tokoh pluralis, tokoh senior dan junior yang tidak pluralis Indonesia 2013. Oleh karena lebih komprehensif jika 6 indikator survey LPI digunakan sebagai bahan analisis. 

Adapun analisis kritis Cara Indonesia Bangkit terhadap 6 indikator LPI dalam survey tokoh pluralis tersebut adalah sebagai berikut: 
  1. memiliki wawasan keindonesiaan. Untuk indikator ini tentu kita sepakat bahwa seorang tokoh apalagi capres harus memiliki wawasan keindonesian. Namun seperti apa wawasan keindonesian yang digunakan LPI, kita tidak mengetahui detailnya. Oleh karena itu kita kembali kedasar negara bahwa Indonesia berdasarkan Pancasila dengan Bhineka tunggal Ika. Yakni sebuah pilar kebangsaan yang telah dikokohkan oleh MPR-RI 2009-2014 sebagai salah satu dari empat pilar kebangsaan. Bhineka Tunggal Ika adalah kesatuan kata yang bermakna persatuan dalam keanekaragaman masyarakat indonesia baik suku, agama, ras antar golongan. 
  2. bersikap moderat. Indikator ini juga sangat tepat digunakan dengan filosofis Pancasila sebagai negara NKRI yang berkedaulatan rakyat dan negara hukum. Seorang pemimpin harus berdiri tengah kepentingan kelompok dan berdiri diantas kepentingan masyarakat luas. 
  3. membela hak minoritas. Secara prinsip sebenarnya, kami kurang suka dengan terminologi mayoritas dan minoritas. Dari hasil penelusuran terhadap survei ini lebih condong pada minoritas dalam bidang agama. Dimana direktur LPI Boni hargens menyatakan bahwa Gamawan Fauzi rendah nilainya karena komentar terhadap penempatan susan sebagai salah satu Lurah di pemprov DKI. Jika kita analisis lebih dalam bahwa seorang tokoh terlebih sebagai kandidat capres tentu harus membela hak semua pihak baik mayoritas dan minoritas sehingga tidak bertolak belakang dengan indikator sebelumnya. Di negeri ini bukan hanya minoritas yang haknya terabaikan, hak-hak mayoritas juga diabaikan. Masih segar ingatan kita ketika adanya pelarangan Takbir keliling pada Hari raya Idul Fitri 2013 lalu dengan alasan keamanan. Demikian juga hak untuk mendapatkan obat-obatan yang halal, pemerintah seakan tutup mata dengan hal ini bahkan media juga lebih fokus pada perdebatan halal haram, perlu tidak sertifikasi halal pada obat-obatan. Yang seharusnya para tokoh mendorong bagaimana politik anggaran/APBN dapat mendorong BUMN dan pengusaha dalam negeri dapat menyediakan obat-obatan yang halal, baik, dan sehat tanpa harus impor dari luar negeri. Untuk itu indikator membela hak minoritas memang sangat perlu, namun kata adil seharus lebih tepat digunakan. Seorang tokoh capres harus dapat berlaku adil terhadap seluruh masyarakatnya. 
  4. mengusahakan kebijakan pro pluralisme. Untuk indikator ini, Cara Indonesia Bangkit kurang sepakat dengan LPI bahwa seorang tokoh capres harus mengusahakan kebijakan pro pluralisme. Karena kata pluralisme hanya menekankan kata Bhineka, padahal kata Bhineka Tunggal Ika adalah satu kesatuan. Jika indikator ini digunakan akan bertentangan dengan Pancasila bahkan bertolak belakang dengan indikator LPI sebelumnya, sehingga terkesan survei ini inkonsisten. Untuk ini cara Indonesia Bangkit mengajukan usul seorang tokoh capres harus Memasyarakatkan Bhineka Tunggal Ika dan menghapus Pluralisme. 
  5. Tidak mencampuradukkan urusan agama dengan politik. Dengan adanya indikator ini menambahkan tidakkonsistennya survey yang dilakukan. Survey dengan judul tokoh capres pluralis namun indikatornya tidak pluralis. Indikator ini mengabaikan kelompok agama lain yang tidak memisahkan agama dalam politik. Dalam Agama islam dan Hindu ada pemahaman yang tidak memisahkan antara urusan agama dengan politik. Untuk itu Cara Indonesia Bangkit mengajukan usul agar para tokoh dan capres 2014 seharusnya mampu mencari titik temu antara urusan agama dengan politik. Bukan malah sebaliknya mempertebal perbedaan yang ada sehingga dapat memicu konflik dan memcah persatuan dan kesatuan bangsa indonesia. 
  6. tegas terhadap ormas radikal berjubah agama. Dengan indikator ini, kami berpendapat bahwa LPI semakin mengecilkan atau menyempitkan makna pluralis dengan mengerucutkan pada kelompok tertentu. hal dibuktikan Direktur LPI Boni Hargens saat merilis hasil surveinya mengatakan, Gamawan menjadi tokoh yang paling tidak pluralistis karena komentar-komentarnya yang tidak mencerminkan pluralisme. Contohnya adalah ketika Gamawan berkomentar tentang pemindahtugasan Lurah Susan dan kerja sama Front Pembela Islam (FPI) dengan pemerintah daerah. Kita ketahui bahwa diskriminasi terhadap kemajemukan (baca : Bhineka daripada pluralis) tidak terjadi hanya karena ormas. Perorangan, kelompok masyarakat, media, pengusaha, termasuk pemerintah sendiri juga melakukan diskriminasi terhadap kebhinekaan. Sehingga dapat disimpulkkan bahwa indikator ini semakin mengecilkan hasil surveynya. 
Dari keseluruhan indikator tersebut dapat disimpulkan bahwa : 
  1. Indikator yang digunakan bertentangan dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika 
  2. Adanya ketidakkonsistenan antara satu indikator dengan indikator lainnya 
  3. Indikator yang digunakan menggiring orang pada hasil yang diinginkan. 
  4. Indikator yang digunakan justeru dapat semakin memanaskan situasi panggung 2014. 
Untuk itu tidak salah jika relawan Dino Patti Djalal menganggap survey ini merupakan pesanan. Dengan menggunakan indikator yang salah akan menghasilkan survey yang salah. Garbage in, Garbage out (GIGO) harus dihindari dalam sebuah survey. Dengan kejadian ini tentu semakin menguatkan kita akan telah terkontaminasinya lembaga-lembaga survey akhir-akhir ini dan bahkan ikut membangun opini publik. Untuk itu Cara Indonesia Bangkit kiranya berpesan kepada kita semua untuk dapat lebih bijak menyikapi hasil-hasil survey. 

Marilah kita cari titik temu, jalan tengah dan persamaan ditengah keanekaragaman yang ada. Pendiri Bangsa telah meletakkan dasar dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, Tinggal kita memasyarakatkannya dan mengembangkannya.  dengan ini  Kita akan wujudkan Indonesia satu sebagaimana sumpah pemuda yang pernah diikrarkan pemuda Indonesia lebih 96 tahun yang lalu. 

Bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia 
Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia 
Berbahasa satu, Bahasa Indonesia 
Untuk Indonesia Bangkit.

6 tokoh pluralis, tokoh senior dan junior yang tidak pluralis 2013

Jika sebelumnya Cara Indonesia Bangkit telah menyampaikan Ketidakpluralisan Survey Tokoh Capres pluralis. Walaupun berlaku hukum garbage in Garbage out (GIGO) juga dapat berlaku dalam survey. Namun seperti ada yang kurang rasanya jika kritikan terhadap Indikator survey LPI tidak diikuti dengan pemaparan hasil surveynya yang terdiri dari 6 tokoh pluralis dan 6 tokoh senior dan 6 tokoh tidak pluralis Indonesia 2013.

Walaupun informasi dari beberapa media online berita keduanya terpisah, namun menurut kami bahwa Survey ini sepertinya satu project, namun hasilnya yang disampaikan dalam dua gelombang. Penghargaan tokoh pluralis pada tanggal 30 desember 2013 merupakan rilis lanjutan rilis survey yang pertama dilakukan LPI pada awal bulan November 2013 yang menyebutkan Presiden SBY sebagai pribadi yang tidak tegas dan tidak pluralis. Rilis ini yang kami tenggarai sebagai akar permasalahan antara Boni Hargens selaku direktur LPI dengan Ruhut Sitompul selaku anggota DPR dari Demokrat. Mudah-mudahan masing-masing pihak bisa saling cooling down.
6 tokoh pluralis, tokoh senior dan junior yang tidak pluralis 2013


Kembali ke hasil survey LPI yang dikutip dari tribunnews bahwa adapun 6 Tokoh yang dianggap LPI sebagai orang paling pluralis adalah sebagai berikut :

  1. Jokowi di posisi pertama, (Gubernur DKI, Kemungkinan menjadi Capres PDIP)
  2. Hary Tanoe di posisi kedua (cawapres Hanura)
  3. Ali Masykur Musa di posisi ketiga (Capres konvensi Partai Demokrat)
  4. Megawati Soekarnoputri, (Ketua Umum PDI Perjuangan)
  5. Prabowo Subianto, (Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra)
  6. Surya Paloh (Ketua Umum Partai Nasdem dan pemilik Media Indonesia Group)
LPI membagi survei tokoh tidak pluralis ini ke dalam dua kategori, yakni elite lama yang bergerak dalam politik lebih dari 10 tahun dan elite baru yang bergerak dalam politik kurang dari 10 tahun yang dikutip dari komisi kepolisian . Boleh disebut juga politisi tua dengan politisi muda

Hasilnya, dalam kategori elite lama, ada 6 tokoh yang dianggap LPI sebagai tokoh yang paling tidak pluralis yaitu sebagai berikut :
  1. Gamawan Fauzi (Mendagri) berada pada urutan yang paling jeblok dengan nilai 2,92. 
  2. Djoko Suyanto (Menko Polhukam) dengan nilai (2,96), 
  3. Hayono Isman (capres Konvensi Demokrat) dengan nilai (3,08), 
  4. Hatta Radjasa (Menko Perekonomian) dengan nilai (3,04), 
  5. Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI) dengan nilai (3,49), dan 
  6. Aburizal Bakrie (capres Partai Golkar) dengan nilai (3,55).
Sementara dalam kategori elite baru, ada 6 tokoh capres baru yang dianggap LPI sebagai tokoh yang paling tidak pluralis yaitu sebagai berikut :
  1. Dino Patti Djalal (Dubes RI untuk Amerika Serikat) berada di urutan buncit dengan nilai 3,09. 
  2. Sri Mulyani Indrawati (Mantan Menteri Keuangan) (3,30), 
  3. Gita Wiryawan ( Menteri Perdagangan sekaligus capres Konvensi Demokrat) (3,33), 
  4. Pramono Edhie (capres Konvensi Demokrat) (3,42), 
  5. Chaerul Tanjung (Kandidat capres sekaligus pemilik transmedia grup) dengan nilai (3,52)
  6. Dahlan Iskan (Menteri BUMN sekaligus Capres konvensi demokrat)
Melihat hasil survey LPI ini mengingatkan kita pada survey LSI yang membagi Capres dalam 2 kategori yakni Capres wacana dan capres Riil. Hanya bedanya survey LPI tentang tokoh pluralis digandrungi oleh media, sementara survey LSI yang digawangi Deny JA menjadi bulan-bulanan media. Mudah-mudahan dilain kesempatan cara Indonesia Bangkit bisa membahas ini.

Oleh karena itu mari kita jaga kondusifitas negeri ini dengan tetap menjaga semangat Bhineka tunggal Ika. Walaupun masing-masing kita beda Capres, namun kita satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air. Janganlah menjual pluralism, namun tidak mengakui pluralitas yang ada di Indonesia. Mari kita bersatu membangkitkan kembali semangat para pejuang yang telah mendirikan negara ini.

Sahabat Indonesia Berubah

 
© Copyright Cara Indonesia Bangkit 2013 | Created by Creating Website | Published by Mas Template | Johny Template | Powered by Blogger.com | Redesign by Cara Indonesia Bangkit